Makanan Sehat atau Sekadar Label? Membongkar Fenomena Clean Label, Low Sugar, dan Plant-Based di Pasar Konsumen

Teknologipangan.umsida.ac.id – Rak-rak supermarket kini dipenuhi kemasan dengan klaim menggoda: clean label, low sugar, plant-based, no preservative, hingga natural ingredients

Bagi konsumen urban terutama para generasi muda label-label ini seolah menjadi jaminan hidup lebih sehat. 

Namun di balik tipografi minimalis dan warna hijau yang menenangkan, muncul pertanyaan krusial: apakah produk-produk ini benar-benar lebih sehat, atau sekadar strategi pemasaran yang dikemas secara ilmiah?

Fenomena makanan berlabel sehat ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan refleksi perubahan perilaku konsumsi masyarakat. 

Kesadaran terhadap isu obesitas, diabetes, hingga kesehatan pencernaan mendorong konsumen lebih selektif memilih makanan mereka. 

Industri pangan pun merespons dengan cepat hal ini, seperti menghadirkan inovasi produk yang menjanjikan solusi instan atas kekhawatiran tersebut.

Namun, dalam perspektif teknologi pangan, klaim kesehatan bukan sekadar soal kata-kata di kemasan. Ia berkaitan erat dengan formulasi, proses produksi, kandungan gizi, serta regulasi yang mengaturnya.

 

Clean Label: Transparansi atau Sekadar Penyederhanaan?

Istilah clean label merujuk pada produk dengan daftar bahan yang singkat, mudah dipahami, dan minim bahan aditif sintetis. 

Dalam praktiknya, clean label sering dimaknai sebagai makanan “alami” dan “lebih aman”.

Mahasiswa Teknologi Pangan, Anisha mengungkapkan bahwa konsep clean label sejatinya lahir dari tuntutan transparansi. 

Konsumen ingin tahu apa yang mereka konsumsi, tanpa harus menebak-nebak istilah kimia yang asing. Namun, masalah muncul ketika clean label dipersepsikan sebagai bebas proses.

“Tidak ada makanan olahan yang benar-benar tanpa proses. Bahkan bahan alami pun tetap melewati tahap pengolahan untuk menjamin keamanan dan umur simpan,” jelasnya.

Dalam industri, penghilangan bahan aditif sintetis sering digantikan dengan bahan alami yang memiliki fungsi serupa, seperti ekstrak tumbuhan atau fermentasi. 

Sayangnya, konsumen kerap menganggap semua yang alami otomatis lebih sehat, padahal keamanan pangan ditentukan oleh dosis, proses, dan pengendalian mutu, bukan semata asal bahan.

 

Low Sugar: Rendah Gula atau Gula Terselubung?

Label low sugar menjadi salah satu yang paling diminati, terutama di tengah meningkatnya kasus diabetes dan obesitas. Namun, tidak semua produk rendah gula berarti bebas risiko.

Menurut standar regulasi, klaim rendah gula memiliki batasan tertentu dalam jumlah gram per sajian. 

Celahnya, produsen dapat menurunkan gula pasir, tetapi menggantinya dengan pemanis lain seperti fruktosa, sirup jagung, atau pemanis buatan.

“Secara teknis, kandungan gulanya memang lebih rendah. Tapi dampak metaboliknya belum tentu lebih baik,” ungkap seorang ahli gizi pangan.

Dalam konteks teknologi pangan, pemanis alternatif memiliki fungsi penting untuk menjaga rasa, tekstur, dan stabilitas produk. 

Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan antara aspek sensori dan kesehatan. 

Produk rendah gula yang terlalu dipaksakan justru berpotensi meningkatkan konsumsi berlebih karena efek false healthy perception konsumen merasa aman sehingga makan lebih banyak.

 

Plant-Based: Solusi Berkelanjutan atau Sekadar Tren Global?

Produk plant-based digadang-gadang sebagai jawaban atas isu kesehatan, lingkungan, dan etika. 

Daging nabati, susu berbasis kacang, hingga protein alternatif kini mudah ditemukan, bahkan di kedai kopi dan restoran cepat saji.

Dari sisi teknologi pangan, pengembangan produk plant-based merupakan pencapaian inovatif. 

Proses ekstraksi protein, rekayasa tekstur, dan formulasi rasa membutuhkan keahlian tinggi agar mendekati sensasi produk hewani.

Namun, muncul kritik bahwa tidak semua produk plant-based otomatis sehat. Beberapa produk justru tinggi natrium, lemak jenuh nabati, serta aditif untuk memperbaiki rasa dan tekstur.

“Plant-based adalah soal sumber bahan, bukan jaminan nilai gizi,” tegas peneliti pangan. “Kalau dikonsumsi berlebihan tanpa membaca label gizi, risikonya tetap ada.”

 

Strategi Marketing di Balik Klaim Sehat

Industri pangan bekerja dalam persaingan ketat. Label kesehatan menjadi alat komunikasi utama untuk menarik konsumen yang sadar gizi. 

Warna hijau, ilustrasi daun, hingga istilah ilmiah yang terdengar ramah sering digunakan untuk membangun citra sehat.

Dalam kajian komunikasi pangan, fenomena ini dikenal sebagai health halo effect ketika satu klaim positif membuat konsumen menganggap seluruh produk sehat, tanpa mengevaluasi aspek lain.

Teknologi pangan sebenarnya berperan sebagai penyeimbang antara kebutuhan pasar dan tanggung jawab kesehatan publik. 

Sayangnya, edukasi konsumen belum berjalan seimbang dengan laju inovasi produk.

 

Regulasi dan Tantangan Pengawasan

Di Indonesia, klaim pangan memang berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang menetapkan ketentuan ketat terkait klaim gizi dan kesehatan pada produk pangan olahan. 

Klaim seperti “rendah gula”, “bebas lemak”, atau “tinggi serat” harus didukung data dan memenuhi batasan tertentu sesuai regulasi yang berlaku. 

Namun, tidak semua istilah populer di industri memiliki definisi hukum yang jelas. 

Istilah seperti clean label, misalnya, lebih banyak digunakan sebagai bahasa pemasaran dan belum memiliki standar baku dalam regulasi, sehingga membuka ruang interpretasi yang beragam di lapangan.

Kondisi ini menjadi tantangan dalam pengawasan, terutama ketika klaim yang digunakan tidak secara langsung melanggar aturan, tetapi berpotensi membentuk persepsi yang keliru di benak konsumen. 

Secara regulasi, produk tersebut dapat dinyatakan aman dan legal beredar, namun secara substansi belum tentu mencerminkan keunggulan kesehatan yang diasumsikan. 

Celah inilah yang kerap dimanfaatkan industri untuk membangun citra sehat melalui pilihan kata, visual kemasan, dan narasi komunikasi, tanpa harus memberikan pembuktian manfaat yang lebih mendalam.

Para ahli teknologi pangan menilai bahwa penguatan literasi pangan di masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi persoalan tersebut. 

Konsumen perlu dibekali kemampuan membaca label secara kritis, memahami perbedaan antara klaim gizi dan klaim kesehatan, serta menyadari keterbatasan makna istilah yang bersifat non-regulatif. 

Tanpa pemahaman yang memadai, konsumen berisiko terjebak pada klaim yang sah secara hukum, tetapi menyesatkan secara persepsi, sehingga tujuan utama perlindungan kesehatan masyarakat menjadi kurang optimal.

 

Peran Teknologi Pangan: Di Antara Inovasi dan Etika

Bagi dunia akademik dan praktisi teknologi pangan, maraknya klaim makanan sehat menjadi refleksi sekaligus tantangan penting. 

Inovasi pangan tidak seharusnya berhenti pada penciptaan produk yang laku dijual dan mengikuti tren pasar, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat. 

Di sinilah peran teknologi pangan menjadi krusial untuk memastikan bahwa setiap klaim kesehatan didukung oleh dasar ilmiah yang jelas.

Mahasiswa dan peneliti teknologi pangan memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan tersebut. 

Pengembangan produk seharusnya tidak hanya berfokus pada pemenuhan label seperti clean label, low sugar, atau plant-based, tetapi juga pada pembuktian manfaat fungsional yang terukur. 

Pendekatan berbasis sains melalui uji laboratorium, analisis gizi, hingga pengujian lanjutan diperlukan agar produk benar-benar memberikan manfaat, bukan sekadar persepsi sehat.

Selain inovasi, transparansi informasi menjadi aspek etis yang tak kalah penting. Teknologi pangan dituntut untuk menyampaikan informasi gizi dan klaim kesehatan secara jujur dan proporsional agar konsumen dapat mengambil keputusan yang sadar. 

Dengan mengedepankan integritas ilmiah dan edukasi publik, makanan sehat tidak lagi sekadar menjadi label pemasaran, melainkan hasil inovasi yang bertanggung jawab.

 

Membaca Label dengan Lebih Kritis

Di tengah banjir produk berlabel sehat, konsumen memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan akhir. 

Membaca daftar komposisi, tabel nilai gizi, dan ukuran sajian menjadi langkah sederhana namun krusial.

“Makanan sehat bukan soal label, tapi soal pola konsumsi,” pungkas seorang dosen teknologi pangan. “Produk apa pun, jika dikonsumsi berlebihan atau tanpa pemahaman, tetap berisiko.”

Fenomena clean label, low sugar, dan plant-based menunjukkan bahwa kesadaran kesehatan masyarakat meningkat. 

Namun, tanpa literasi pangan yang memadai, klaim sehat berpotensi menjadi ilusi.

Teknologi pangan berada di garis depan untuk menjembatani kepentingan industri dan kesehatan publik. 

Di tangan inovator yang beretika dan konsumen yang kritis, makanan sehat tidak lagi sekadar label melainkan pilihan sadar yang berbasis ilmu pengetahuan.

 

Penulis: Putri Mega Safithrih