Tanpa Kulkas, Tanpa Basi: Bagaimana Makanan Instan Bisa Tahan Lama?

Teknologipangan.umsida.ac.id – Mi instan, sarden kalengan, rendang kemasan, hingga berbagai lauk siap saji dalam pouch telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat modern. Bagi mahasiswa, pekerja, maupun keluarga dengan mobilitas tinggi, makanan instan sering kali menjadi solusi praktis karena mudah disajikan dan dapat disimpan lama tanpa kulkas. Namun, di balik kepraktisan tersebut, masih banyak pertanyaan yang muncul di masyarakat: mengapa makanan instan tidak cepat basi meski disimpan pada suhu ruang? Apakah daya tahannya semata-mata karena penggunaan bahan pengawet kimia?

Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, pertanyaan ini justru menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sains dan teknologi bekerja dalam memastikan keamanan dan mutu pangan. Kenyataannya, anggapan bahwa makanan instan awet karena “dipenuhi bahan kimia” tidak sepenuhnya benar. Daya simpan panjang pada produk pangan instan lebih banyak ditentukan oleh teknologi pengolahan dan pengemasan yang dirancang untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan pangan.

Air sebagai Kunci Pembusukan Makanan

Dalam ilmu teknologi pangan, salah satu faktor utama yang memengaruhi keawetan makanan adalah kadar air. Bakteri, kapang, dan mikroorganisme lain membutuhkan air untuk tumbuh dan berkembang. Semakin tinggi kadar air suatu produk, semakin besar pula peluang terjadinya pembusukan.

Prinsip inilah yang mendasari penggunaan teknologi pengeringan dalam industri pangan. Pada mi instan, misalnya, adonan mi mengalami proses penggorengan atau pengeringan hingga kadar airnya sangat rendah. Kondisi ini membuat mikroorganisme tidak dapat bertahan hidup. Akibatnya, mi instan dapat disimpan selama berbulan-bulan tanpa pendinginan, selama kemasan tidak rusak dan penyimpanan dilakukan dengan benar.

Bagi mahasiswa Teknologi Pangan, konsep ini dikenal sebagai pengendalian aktivitas air (aw), salah satu parameter penting dalam perancangan produk pangan yang aman dan stabil.

Sterilisasi Panas dan Teknologi Retort Pouch

Selain pengeringan, industri pangan modern juga memanfaatkan pemanasan suhu tinggi sebagai metode pengawetan. Salah satu teknologi yang kini semakin banyak digunakan adalah retort pouch. Teknologi ini memadukan proses sterilisasi termal dengan kemasan fleksibel berlapis plastik dan aluminium yang tahan panas serta tekanan tinggi.

Dalam proses retort, makanan yang telah dikemas dipanaskan pada suhu dan waktu tertentu hingga mencapai kondisi steril komersial. Proses ini bertujuan untuk membunuh bakteri patogen maupun mikroba pembusuk tanpa perlu menambahkan pengawet dalam jumlah besar. Teknologi ini sebenarnya serupa dengan proses pada makanan kaleng, namun menggunakan kemasan yang lebih ringan dan praktis.

Hasilnya, makanan seperti rendang, gulai, atau lauk siap saji lainnya dapat disimpan pada suhu ruang selama berbulan-bulan, bahkan lebih dari satu tahun, dengan tingkat keamanan pangan yang tetap terjaga. Dari sudut pandang teknologi pangan, retort pouch menjadi contoh nyata bagaimana inovasi proses dan kemasan dapat meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan keamanan.

Peran Penting Kemasan dalam Menjaga Mutu

Daya tahan makanan instan tidak hanya ditentukan oleh proses pengolahan, tetapi juga oleh sistem pengemasan. Banyak produk instan dikemas secara kedap udara atau divakum untuk meminimalkan keberadaan oksigen di dalam kemasan. Oksigen dapat memicu reaksi oksidasi yang menyebabkan makanan menjadi tengik, berubah warna, atau mengalami penurunan kualitas rasa.

Selain itu, kemasan modern juga dirancang untuk melindungi produk dari cahaya dan kelembapan, dua faktor yang dapat mempercepat penurunan mutu pangan. Kombinasi antara sterilisasi, pengendalian kadar air, dan kemasan yang tepat menjadikan makanan instan relatif stabil meskipun disimpan dalam jangka waktu lama.

Meluruskan Mitos tentang Pengawet

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua makanan instan bergantung pada bahan pengawet kimia. Dalam banyak kasus, pengawetan fisik dan mekanis—seperti pengeringan, pemanasan, dan pengemasan—justru menjadi kunci utama. Bahan tambahan pangan memang dapat digunakan, tetapi penggunaannya diatur secara ketat dan harus memenuhi standar keamanan yang ditetapkan.

Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, pemahaman ini penting untuk disampaikan kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selama produk memiliki izin edar resmi dan dikonsumsi sesuai petunjuk penyimpanan, makanan instan aman untuk dikonsumsi.

Belajar Lebih Kritis sebagai Konsumen

Di era gaya hidup serba cepat, makanan instan sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, memahami teknologi di balik daya tahannya membantu kita menjadi konsumen yang lebih kritis dan bijak. Keamanan pangan bukan hanya soal bahan, tetapi juga tentang proses, kemasan, dan pengendalian mutu yang dilakukan secara ilmiah.

Bagi mahasiswa Teknologi Pangan, makanan instan bukan sekadar produk praktis, melainkan hasil penerapan ilmu yang kompleks. Dari pengendalian aktivitas air hingga sterilisasi termal dan desain kemasan, semua proses tersebut menunjukkan bagaimana sains berperan penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat modern. Dengan pemahaman ini, kepraktisan makanan instan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mencurigakan, melainkan sebagai bukti berkembangnya teknologi pangan yang bertanggung jawab.

Penulis: Enky Okta Wijaya