Teknologipangan.umsida.ac.id – Di tengah maraknya tren makanan kekinian dan pola konsumsi serba instan, Indonesia masih menghadapi persoalan gizi yang kompleks.
Stunting, anemia, kekurangan protein, hingga ketimpangan akses pangan bergizi masih menjadi pekerjaan rumah nasional.
Di balik tantangan besar tersebut, hadir peran penting mahasiswa Teknologi Pangan (Tekpang)
sebagai generasi muda yang berada di garda depan inovasi pangan berbasis sains.
Bagi mahasiswa Tekpang Umsida, isu gizi bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas sosial yang menuntut solusi nyata.
Melalui pemahaman tentang komposisi pangan, keamanan makanan, dan proses pengolahan, mereka dididik untuk melihat makanan bukan hanya sebagai produk konsumsi, tetapi sebagai instrumen peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dari Laboratorium ke Meja Makan Masyarakat
Peran mahasiswa Tekpang tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium.
Berbagai riset sederhana yang dilakukan dalam praktikum maupun tugas akhir kerap diarahkan untuk menjawab persoalan gizi di tingkat lokal.
Pemanfaatan bahan pangan lokal seperti sorgum, mocaf, daun kelor, ikan air tawar, hingga umbi-umbian menjadi fokus utama pengembangan produk bernilai gizi tinggi.
Inovasi pangan berbasis bahan lokal ini tidak hanya bertujuan meningkatkan asupan nutrisi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Produk seperti biskuit tinggi protein, minuman fungsional, hingga camilan sehat rendah gula menjadi contoh nyata bagaimana ilmu teknologi pangan dapat diterjemahkan ke dalam produk yang ramah bagi masyarakat luas.
Lebih dari itu, mahasiswa juga dibekali pemahaman tentang fortifikasi pangan, pengurangan kehilangan gizi selama proses pengolahan, serta pengendalian keamanan pangan.
Hal ini menjadi krusial, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.
Agen Edukasi Gizi di Era Digital
Di era media sosial, mahasiswa Tekpang juga berperan sebagai agen edukasi gizi.
Dengan literasi sains yang dimiliki, mereka dapat membantu meluruskan informasi keliru seputar makanan dan gizi yang kerap beredar di ruang digital.
Mulai dari mitos diet ekstrem, klaim pangan “instan sehat”, hingga tren makanan viral yang belum tentu aman dikonsumsi.
Melalui konten edukatif di media sosial, program pengabdian masyarakat, hingga kampanye pangan sehat di lingkungan sekitar, mahasiswa berkontribusi meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang.
Pendekatan yang komunikatif dan sesuai dengan gaya generasi muda membuat pesan gizi lebih mudah diterima, terutama oleh kalangan Gen Z dan milenial.
Tak sedikit pula mahasiswa yang menggabungkan inovasi pangan dengan kewirausahaan.
Produk pangan bergizi yang dikembangkan di bangku kuliah berpotensi menjadi usaha rintisan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial.
Menjadi Bagian dari Solusi Gizi Nasional
Tantangan gizi Indonesia tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.
Dalam ekosistem tersebut, mahasiswa Tekpang memegang peran strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata di lapangan.
Dengan bekal sains, kreativitas, dan kepedulian sosial, mahasiswa Tekpang memiliki peluang besar untuk menjadi motor perubahan dalam pembangunan gizi nasional.
Dari inovasi produk hingga edukasi masyarakat, langkah-langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi fondasi bagi Indonesia yang lebih sehat di masa depan.
Di tengah tantangan gizi yang masih membayangi, kontribusi mahasiswa Teknologi Pangan menjadi bukti bahwa solusi dapat lahir dari kampus dan dimulai dari sepiring makanan bergizi.
Penulis: Putri Mega Safithrih










